Coba perhatikan gambar di atas. Gambar di atas menunjukkan berbagai jenis hewan yang mungkin pernah atau bahkan sering kalian lihat. Hewan-hewan tersebut merupakan salah satu bagian kecil dari keanekaragaman fauna atau hewan yang ada di dunia ini. Tidak hanya hewan yang beraneka ragam, tapi semua makhluk di bumi ini diciptakan beranekaragam. Setiap makhluk memiliki ciri-ciri tersendiri sehingga terbentuklah keanekaragaman. Keanekaragaman makhluk hidup ini disebut keanekaragaman hayati atau biodiversitas.
Keanekaragaman hayati / biodiversitas adalah totalitas keseluruhan variasi makhluk hidup. Keanekaragaman ditunjukkan antara lain oleh variasi bentuk, ukuran, jumlah, warna, dan sifat-sifat lain makhluk hidup. Dengan kata lain, di dalam keanekaragaman terdapat perbedaan dan persamaan. Mengapa terjadi keanekaragaman hayati ? Ada 2 faktor penyebab terjadinya keanekaragaman, yaitu faktor gen dan faktor lingkungan.
A. Tingkat keanekaragaman hayati
Gen adalah subtansi kimia sebagai faktor penentu sifat keturunan yang terdapat di dalam kromosom. Kromosom terletak pada inti sel. Jadi, genlah yang mengendalikan sifat atau karakter.Sifat-sifat yang ditentukan oleh gen disebut genotipe. Mengapa gen menjadi penentu sifat ? Karena sel bereproduksi (tempat terdapatnya gen.)
Keanekaragaman hayati adalah variasi di dalam makhluk hidup sejenis yang disebabkan karena gen yang diwariskan dan dipengaruhi juga oleh lingkungan. Perbedaan gen terjadi pada antarjenis. Dua makhluk hidup dikatakan sejenis ketika memiliki kasamaan morfologi, tingkah laku, cara hidup, cara makan, fungsi fisiologi, dan bisa saling kawin dan menghasilkan keturunan yang subur (fertil). Dengan adanya keanekaragaman gen, sifat-sifat di dalam satu spesies menjadi bervariasi yang dikenal dengan varietas. Coba perhatikan teman-teman sekelasmu! Apakah ada yang memiliki wajah sama? Apabila kalian pergi ke pasar, apakah hanya terdapat 1 jenis mangga atau 1 jenis jeruk ? Pasti terdapat perbedaan yang disebabkan karena gen.
2. Keanekaragaman tingkat jenis
Keanekaragaman tingkat jenis adalah variasi pada antarjenis yang disebabkan oleh gen dan lingkungan. Hal ini berarti terdapat keanekaragaman pada makhluk hidup yang berbeda jenis. Dua makhluk dikatakan berbeda jenis bila memiliki perbedaan morfologi, tingkah laku, cara hidup, cara makan, fungsi fisiologi, dan tidak bisa saling kawin sehingga tidak dapat menghasilkan keturunan yang subur (fertil).
Keanekaragaman tingkat jenis ini mudah diamati. Di lingkungan sekitar dapat dijumpai berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Misalnya di dalam hewan, ada harimau, kucing, unta, dan sebagainya. Pada tumbuhan terdapat tanaman padi, jagung, ubi, singkong, dan sebagainya.
3. Keanekaragaman tingkat ekosistem
Keanekaragaman tingkat ekosistem adalah variasi yang terjadi dalam ekosistem yang disebabkan karena interaksi antar komponen biotik dan abiotik. Interaksi biotik - abiotik terjadi antara makhluk hidup dengan lingkungan fisik, yaitu suhu, cahaya, dan lingkungan kimiawi seperti air, mineral, dan keasaman.
Dengan beranekaragamnya kondisi lingkungan dan makhluk hidup yang saling berinteraksi, terbentuklah keanekaragaman ekosistem. Tiap ekosistem memiliki ciri khasnya masing-masing. Begitupun dengan flora dan faunanya akan berbeda antara ekosistem yang satu dengan ekosistem lainnya. Misalnya, ekosistem padang rumput, ekosistem pantai, ekosistem tropik, ekosistem hutan, dan ekosistem air laut.
B. Keanekaragaman Hayati Indonesia
Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Dua negara lainnya adalah Brasil dan Zaire. Tetapi dibandingkan dengan Brazil dan Zaire, Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya adalah di samping memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki areal tipe indo-malaya yang luas, juga tipe oriental, australia, dan peralihannya. Selain itu, di Indonesia terdapat banyak hewan dan tumbuhan langka, serta spesies endemik.
1. Memiliki Keanekaragaman Hayati Tinggi
Indonesia terletak di daerah tropik sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim kutub). Keanekaragaman tinggi di Indonesia dapat dijumpai di dalam lingkungan hutan tropik. Jika di hutan iklim sedang dijumpai satu atau dua jenis pohon, maka di areal yang sama di dalam hutan hujan tropik memiliki keanekaragaman hayati sekitar 300 kali lebih besar dibandingkan dengan hutan iklim sedang. Di dalam hutan hujan tropik terdapat berbagai jenis tumbuhan (flora) dan fauna yang belum dimanfaatkan, atau masih liar. Di dalam tubuh hewan dan tumbuhan itu tersimpan sifat-sifat unggul, yang mungkin dapat dimanfaatkan di masa mendatang. Sifat-sifat unggul itu misalnya tumbuhan yang tahan penyakit, tahan kekeringan, dan tahan terhadap kadar garam yang tinggi. Ada pula yang memiliki sifat menghasilkan bahan kimia beracun. Jadi, di dalam dunia hewan dan tumbuhan, baik yang sudah dibudidayakan maupun belum, terdapat sifat-sifat unggul yang perlu dilestarikan.
Selain itu, penyebab Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi diantaranya:
1. Indonesia merupakan negara kepulauan
2. Memiliki unsur flora dan fauna dari wilayah Indomalaya sampai Australia
3. Terbagi menjadi 2 wilayah, yaitu wilayah oriental dan wilayah australia
4. Banyak pulau yang terisolasi beribu-ribu tahun sehingga tingkat endemisnya menjadi tinggi
5. Indonesia memiliki laut yang luas sehingga memiliki sumber daya terumbu karang terkaya
6. Memiliki pantai yang luas sehingga memiliki jenis flora dan fauna terkaya.
2. Memiliki Tumbuhan Tipe Indo-Malaya yang Arealnya Luas
Tumbuhan di Indonesia merupakan bagian dari daerah geografi tumbuhan indo-malaya, seperti yang dinyatakan oleh Ronald D. Good dalam bukunya The Geography of Flowering Plants. Flora indo-malaya meliputi tumbuhan yang hidup di India, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Philipina. Flora yang tumbuh di Malaysia, Indonesia, dan Philipina sering disebut sebagai kelompok flora malesiana.
Hutan di Indonesia dan hutan-hutan di daerah flora malesiana memiliki kurang lebih 248.000 spesies tumbuhan tinggi. Jumlah ini kira-kira setengah dari seluruh spesies tumbuhan di bumi. Hutan hujan tropik di malesiana didominasi oleh pohon dari famili Dipterocarpaceae, yaitu pohon-pohon yang menghasilkan biji bersayap. Biasanya Dipterocarceae merupakan tumbuhan tertinggi. Tumbuhan yang termasuk famili Dipterocarpaceae misalnya keruing (dipterocarus spp.), meranti (Shorea spp.), kayu garu (Gonystylus bancanus), dan kayu kapur (Dyrobalanops aromatica).
3. Memiliki Hewan Tipe Oriental (Asia), Australia, Serta Peralihan
Ketika Alfred Russel Wallace mengunjungi Indonesia pada tahun 1856, ia menemukan perbedaan besar fauna di beberapa daerah di Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). Ketika ia mengunjungi Bali dan Lombok, ia menemukan perbedaan hewan di kedua daerah tersebut. Di Bali, terdapat banyak hewan yang mirip dengan hewan-hewan Asia (Oriental), sedangkan di Lombok hewan-hewannya mirip dengan Australia. Oleh sebab itu, kemudian ia membuat garis pemisah yang memanjang mulai dari Selat Lombok ke Utara melewati Selat Makasar dan Philipina Selatan. Garis ini disebut Garis Wallace.
Indonesia terbagi menjadi dua zoogeografi yang dibatasi oleh Garis Wallace. Garis Wallace membelah Selat Makasar menuju ke Selatan hingga ke Selat Lombok. Jadi, Garis Wallace memisahkan wilayah oriental (termasuk Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan) dengan wilayah Australia (Sulawesi, Irian, Maluku, Nusa Tenggara Barat dan Timur).
Fauna Daerah Oriental ( Asia )
Hewan-hewan di bagian barat Indonesia (Oriental) yang meliputi Sumatera, Jawa dan Kalimantan, serta pulau-pulaunya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
- Banyak spesies mamalia yang berukuran besar, misalnya gajah, banteng, harimau, badak. Mamalia berkantung jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.
- Terdapat berbagai macam kera dan ikan air tawar. Kalimantan merupakan pulau yang paling kaya akan jenis-jenis primata. Ada tiga jenis primata, misalnya bekantan, tarsius, loris hantu, dan orang utan.
- Terdapat hewan endemik, seperti:
1. Badak bercula satu di Ujung Kulon
2. Binturong (Arctictis binturong), hewan sebangsa beruang tapi kecil
3. Monyet Presbytis thomasi
4. Tarsius (Tarsius bancanus)
5. Kukang (Mycticebus coucang)
-Burung-burung Oriental memiliki warna yang kurang menarik dibanding burung-burung di daerah Australia, tetapi dapat berkicau. Burung-burung yang endemik misalnya jalak bali (Leucopsar rothschildi), elang jawa, murai mengkilat (Myophoneus melurunus), elang putih (Mycrohyerax latifrons), ayam hutan berdada merah (Arborphila hyperithra), dan ayam pegar.
Fauna Daerah Australia
Jenis-jenis hewan di Indonesia bagian Timur (Irian, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara) relatif sama dengan Australia. Ciri-ciri hewan di Indonesia bagian Timur adalah:
a) Mamalia berukuran kecil, seperti walabi, kuskus, oposum
b) Tidak terdapat spesies kera
c) Banyak hewan berkantung
d) Jenis-jenis burung memiliki warna yang beragam, seperti cendrawasih, kasuari, kakatua raja, nuri
Fauna Daerah peralihan
Ciri fauna daerah peralihan yaitu jenis hewannya mirip dengan fauna tipe asia dan australia. Diantaranya babi rusa, komodo, tapir, anoa, dan burung maleo.
C. Kegiatan Manusia yang Memengaruhi Biodiversitas
Kelangsungan hidup manusia bergantung pada kelestarian ekosistem tempat hidup manusia. Kelestarian juga berarti terjaganya keanekaragaman hayati (biodiversitas). Pengaruh manusia terhadap lingkungan dapat mengakibatkan dua kemungkinan, yaitu alam menjadi rusak atau sebaliknya, alam tetap lestari. Diantara aktivitas manusia yang dapat merusak biodiversitas, yaitu :
2. Penggunaan Pestisida
3. Pencemaran, baik pencemar seperti limbah pabrik maupun rumahtangga
4. Perubahan tipe tumbuhan
5. Penebangan liar
6. Perburuan liar dan penangkapan ikan dengan cara yang tidak tepat dan tanpa kenal batas
7. Ladang berpindah
Disamping itu, perlu digalakkan aktivitas yang bertujuan meningkatkan dan melestarikan keanekaragaman hayati. Usaha untuk pelestarian biodiversitas diantaranya :
1. Penghijauan
2. Pembuatan taman kota
3. Pemuliaan
4. Pembiakan insitu dan exsitu
1. Pelestarian insitu yaitu pelestarian yang dilakukan di tempat hidup aslinya (habitat). Contoh: taman nasional dan cagar alam.
2. Pelestarian exsitu yaitu pelestarian dengan cara dikeluarkan dari habitarnya dan dipelihara di tempat lain. Contoh : kebun binatang, kebun plasma nutfah, kebun raya, dan lainnya.
D. Manfaat Biodiversitas
Sebagai sumber pangan, perumahan, dan kesehatan :
a. Pangan : berbagai biji-bijian, umbi-umbian, buah-buahan, dan hewan ternak.
b. Perumahan : kayu jati, meranti, dan kamfer.
c. Kesehatan : kunyit, kencur, temulawak, jahe, dan lengkuas.
2. Nilai Ekonomi / produksi
Keanekaragaman hayati dapat dijadikan sumber pendapatan. Misalnya melalui kegiatan produksi, contohnya untuk bahan baku industri makanan, obat, tekstil, dan sebagainya yang akan menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.
3. Manfaat Ekologi
Keanekaragaman hayati memiliki peran mempertahankan keberlanjutan ekosistem, memperkokoh ekosistem, juga merupakan gudang sifat-sifat unggul untuk dimanfaatkan kemudian hari.
4. Manfaat Keindahan
Keanekaragaman hayati memberi keindahan alam. Contohnya di depan rumah kita akan lebih indah dengan aneka ragam tanaman, misalnya mawar, melati, dan lainnya. Jadi, keindahan alam tidak terdapat pada keseragaman tetapi pada keanekaragaman.
5. Manfaat Pendidikan/Keilmuan
Biodiversitas merupakan lahan penelitian dan pengembangan ilmu yang berguna untuk kehidupan manusia.
6. Manfaat Religius
Biodiversitas membuka mata setiap manusia akan kebesaran Allah SWT. akan diciptakannya keanekaragaman hayati, sehingga lebih dekat dengan tuhan-Nya.
.jpg)

.jpg)
.jpg)